Ketika Anak Suka Marah

Bismillahirrahmanirrahim...

anak marah
MULTI PASTE - Marah memang terkait dengan emosi yang tidak terkendali.  Tetapi mungkin agak sedikit berbeda arti jika yang marah-marah adalah anak-anak.  Jika permintaannya tidak dituruti misalnya, langsung marah, melemparkan segala macam barang yang ada di dekatnya.  Seringkali hal ini membuat orang tua frustasi dan balik menyerang anaknya dengan marah pula atau bahkan membalasnya dengan kekerasan, mencubit atau memukul.

Psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, Spi. Msi., atau yang akrab disapa Kak Seto, dalam bukunya "Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya", menjabarkan beberapa alasan utama kemarahan anak antara lain :


Janji yang Tidak Ditepati

Untuk menyenangkan anak yang tengah merengek, orang tua seringkali spontan menyetujui akan mengabulkan permintaan anak.  Sayangnya janji tersebut sering tak ditepati.

Solusi : Untuk memberi contoh dan mengajarkan rasa tanggung jawab pada anak, orang tua perlu meminta maaf pada anak, terlebih dahulu.  Kemudian orang tua menjelaskan kenapa janji tersebut tidak ditepati, jangan mudah memberi janji, karena anak terus mengingat janji tersebut, bahkan sampai dewasa.


Mencari Perhatian

Perlakuan dan kata-kata adalah dua bentuk konkrit kasih sayang yang dimengerti anak.  Ketika anak merasa kasih sayang yang ditujukkan padanya belum dirasa cukup, anak akan mencari perhatian orang tua.  Marah, mungkin akan ditafsirkan oleh anak-anak adalah cara yang efektif.

Solusi : Menghadapi kemarahan anak, orang tua perlu bersikap tenang, menggunakan humor untuk mencairkan suasana, menggunakan kalimat yang positif, untuk meyakinkan anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan perhatian orang tua.  Kesabaran orang tua adalah kuncinya.  Memeluk juga seringkali bisa merdakan kemarahan anak.


Dipaksa Disiplin

Para orang tua tentu akan membimbing putra-putrinya untuk tumbuh dengan menampilkan tingkah laku dan tindakan yang sesuai dan dapat diterima oleh norma-norma yang berlaku.  Maka Disiplin menjadi hal yang sangat mutlak.  Sayangnya disiplin itu cenderung diterapkan dengan bau militer, tegas keras dan hukuman.  Padahal peraturan yang ketat, tidak disukai anak, disiplin yang keras hanya akan mendorong rasa terkekang dan rasa marah pada anak.  Anak hanya akan mengingat sisi negatif dari disiplin, yaitu hukuman.

Solusi : Pendisiplinan pada anak sebaiknya bersifat membangun dan mengarahkan anak agar dapat belajar menentukan pilihannya sendiri secara bijaksana.  Pendisiplinan juga harus bersifat konsisten namun tidak dengan kekerasan, baik dalam tutur kata, maupun hukumannya.


Tidak semua kemarahan anak disebabkan beberapa hal di atas begitu juga penyelesaiannya.  Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, cara mengatasinya pun berbeda.  Yang paling mengerti karakter anak tentu saja orang tua, jadi solusi terbaik tentu saja tetap ditangan orang tua.  Alhamdulillah.., semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Anda.